[LAPSUS/ANAK] Akut Leukemia Limfoblastik Tipe L1

November 25, 2008

NB :

PENDAHULUAN

 Leukemia merupakan  penyakit keganasan sel darah putih yang berasal dari sumsum tulang ditandai oleh proliferasi sel-sel darah putih, dengan manisfestasi adanya sel-sel abnormal dalam darah tepi. Pada leukemia ada gangguan dalam pengaturan sel leukosit. Leukosit dalam darah berploriferasi secara tidak teratur dan tidak terkendali dan fungsinyapun menjadi tidak normal. Oleh karena proses tersebut fungsi-fungsi lain dari sel darah normal juga terganggu hingga menimbulkan  gejala leukemia yang dikenal dalam klinik. 1

Klasifikasi  besar leukemia terbagi menjadi leukemia akut dan kronis. Apabila populasi sel abnormal tidak matang, maka dinamakan bentuk akut. Sedangkan leukemia yang bersel matang dinamakan leukemia kronis. Leukemia akut dapat dibagi menjadi leukemia myelositik akut (AML) dan leukemia limfoblastik akut (LLA). Pada leukemia kronis mencakup dua tipe utama yaitu Leukemia granulositik (myelositik) kronik (CML ) dan leukemia limfositik kronik ( CLL ). 1,2

Akut Leukemia Limfoblastik    ( ALL ) merupakan kanker paling umum yang terjadi pada anak-anak. Tetapi LLA dapat berefek pada semua umur. Insidennya paling sering usia 2-10 tahun. Insiden tertinggi umur 3-5 tahun. Insiden turun bersamaan dengan peningkatan umur. Lebih sering mengenai laki – laki daripada perempuan.3

Faktor penyebab terjadinya ALL sebagian besar tidak diketahui, tetapi dicurigai disebabkan oleh faktor genetik, radioaktif, virus dan senyawa kimia.3

Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjamg. Pemeriksaan penunjang umumnya berupa apusan darah tepi dan pemeriksaan sumsum tulang. 5 

Berikut dilaporkan kasus Akut Limfoblastik Leukemia ( ALL ) pada anak yang dirawat di ruang anak RSUD Ulin Banjarmasin.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. FKUI. Jakarta
  2. Anonymous. 2005. Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL). Available from: www.webbrowser.com  diakses 4 Februari 2008. St. Jude Reseach Hospital
  3. Djoerban, Zubairi et al. 1998. Leukemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. FKUI, Jakarta
  4. Heri, Fadjari. 2001. Leukemia Granulositik Kronis dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. FKUI, Jakarta
  5. Wahidiyat, Iskandar. 1998. Buku Kuliah Ilmu kesehatan Anak Jilid I. FKUI, Jakarta
  6. Anonymous. 2002.  Acute Lymphoblastic Leukemia in Children. Available from : www.cancer.gov  diakses 4 Februari 2008.
  7. Permono, Bambang. 2005. Leukemia Akut dalam Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak. FKUI, Jakarta
  8. Sate, Karen. 2007.  Acute Lymphoblastic Leukemia. Available from : www.emedicine.com diakses 4 Februari 2008
  9. Arvin, Khegman, Behrman. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15. EGC, Jakarta
  10. Anderson, Sylvia. 2006. Patofisiologi Edisi 6. EGC, Jakarta
  11. Anonymous. 2007.  Acute Lymphoblastic Leukemia-Sign and Symptoms. Availble from : www.uscfhealth.org  diakses 4 Februari 2008
  12. Anonymous. 2007. Childhood Acute Lymphoblastic Leukemia : Treatment. Available from :  www.cancer.gov  diakses 4 Februari 2008
  13. Halonen, Päivi. 2003. Iron Overload in Children Who Are Treated for Acute Lymphoblastic Leukemia Estimated by Liver Siderosis and Serum Iron Parameters. J Am Ped. Vol. 111 No. 1 January 2003, pp. 91-96
  14. Guise, Jeanne-Marie, Donald Austin, dan Cynthia D. Morris. 2005. Review of Case-Control Studies Related to Breastfeeding and Reduced Risk of Childhood Leukemia. J Am Ped. 10.1542/peds.2005-0636
  15. Pui, Ching-Hon, Mary V. Relling, dan James R. Downing. 2004. Acute Lymphoblastic Leukemia.. NEJM.  350:1535-1548.
  16. Mostert, Saskia, Mei N. Sitaresmi, Chad M. Gundy, Sutaryodan Anjo J. P. Veerman. 2006. Influence of Socioeconomic Status on Childhood Acute Lymphoblastic Leukemia Treatment in Indonesia.. J Am Ped. 118 No. 6 December 2006, pp. e1600-e1606
  17. Howard, Scott C. Et al. 2004. Establishment of a Pediatric Oncology Program and Outcomes of Childhood Acute Lymphoblastic Leukemia in a Resource-Poor Area. JAMA. Vol. 291 No. 20, May 26, 2004
  18. Eder, Michelle L, Amy D. Y, Peter W. Wittmann dan Eric D. Kodish. 2007.  Improving Informed Consent: Suggestions From Parents of Children With Leukemia. J Am Ped. Vol. 119 No. 4 April 2007, pp. e849-e859

 

 

Diatas merupakan salah satu tulisan ilmiah saya yang saya buat untuk keperluan coass di RSUD Ulin Banjarmasin. Bagi teman-teman yang berminat untuk full text nya harap beri comment dan kirim email (berisi nama, kuliah/kerja dimana, dan untuk keperluan apa) ke alamat drbudiseptiawan@gmail.com, nanti saya akan kirimkan filenya.

Kalau tulisan ini berkenan dan bermanfaat comment please

 


[REFRAT/BEDAH] Varises

November 25, 2008

PENDAHULUAN

 

Varises adalah penyakit yang dikenal sejak manusia hidup dalam posisi berdiri. Pernah diutarakan bahwa terdapat varises pada salah satu Mumi-Mesir dari tahun 1580 sebelum Masehi. Diperkirakan bahwa sekitar 50% dari penduduk dewasa orang Eropa menderita penyakit ini. Angka ini mungkin Iebih rendah pada penduduk Asia; namun angka statistik yang pasti khususnya untuk Indonesia belum Ada.1,2

Varises (varus = bengkok) adalah pelebaran pembuluh balik (vena) yang berkelok-kelok dan ditandai oleh katup didalamnya yang tidak berfungsi lagi. Bila hanya melebar saja disebut venektasi. Terdapat 3 jenis vena pada tungkai, yaitu vena tepi, vena dalam dan vena penghubung (perforantes). Vena tepi terletak di bawah kulit dan hanya dilindungi oleh jaringan longgar dan kulit, sedang vena dalam diliputi otot dan fascia serta berdampingan dengan arter-inya. Vena tepi yang utama adalah vena safena magna (VSM) dan vena safena parva (VSP). Kedua vena ini berhubungan di beberapa tempat melalui vena-vena kecil. lstilah safena berasal dari bahasa Yunani safes, artinya mudah terlihat atau jelas, sesuai dengan keadaannya di tubuh. VSM merupakan vena terpanjang di tubuh, mulai dari kaki sampai ke fossa ovalis dan mengalirkan darah dari bagian medial kaki serta kulit sisi medial tungkai. Vena ini merupa-kan vena yang paling sering menderita varises.3

Dari dulu sampai sekarang para ahli tiada henti-hentinya mencoba menangani varises dan komplikasinya. Perdarahan spontan jarang terjadi, biasanya ada trauma ringan, dan ini akan menyebabkan pasien segera datang berobat. Kemajuan yang besar telah dicapai mengenai terapi, dan pengetahuan yang mendasar dihimpun mengenai anatomi, etiologi, patologi dan patofisiologi, namun masalah yang dihadapi masih jauh dari selesai. terapi operatif dan non-operatif telah dicoba; kira-kira 50 tahun yang lalu terapi sklerosik dianggap satu-satunya pengobatan, untuk kemudian ditinggalkan dan kembali kepada tindakan bedah yang dipercaya sebagai cara untuk membuang varises, tambah ekstensif tambah baik. Sementara itu beberapa ahli mulai sangsi terhadap hasil operasi yang ekstensif yang kadang juga merusak sistem vena dalam. Karena itu mereka ini mulai lagi dengan terapi sklerotik dan bahan injeksi yang Iebih dapat diandalkan. Sampai sekarang para ahli yang menyokong kedua cara ini sama-sama yakin akan hasilnya masing-masing. Varises dan komplikasinya jarang sekali menyebabkan kematian, betapapun besar dan banyaknya keluhan yang diderita pasien. Karena itu kesalahan yang berakibat fatal harus dicegah, terapi manapun yang diterapkan.1,2

DAFTAR PUSTAKA

1.      Dahlan, Murnizal dan Djang Jusi. Vaskuler dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Editor : Soelarto Reksoprodjo. Binarupa Aksara, Jakarta. 1995. Hal 253-66

 

2.      Puruhito, Paul Tahalele, Murnizal Dahlan, Tarmizi Hakim, Djang Jusi. Jantung, Pembuluh Darah, dan Limfe dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Editor : R. Syamsuhidayat dan Wim De Jong. EGC, Jakarta. 2004; hal 486-91

 

3.      Campbell, Bruce. Varicose Veins And Their Management.  BMJ. 2006;333;287-292

 

4.      Domers, Pamela dan Michiil Kaarnapen. The Histophatology of Varicose Vein Disease. Angiology; 2006 ; 57 : 546

 

5.      Bradbury, Andrew, Christine E, Allan P et al. What are Symptom of Varicose Pain. BMJ. 2006;333;287-292

 

NB :

Diatas merupakan salah satu tulisan ilmiah saya yang saya buat untuk keperluan coass di RSUD Ulin Banjarmasin. Bagi teman-teman yang berminat untuk full text nya harap beri comment dan kirim email (berisi nama, kuliah/kerja dimana, dan untuk keperluan apa) ke alamat drbudiseptiawan@gmail.com, nanti saya akan kirimkan filenya.

Kalau tulisan ini berkenan dan bermanfaat comment please


[REFRAT/OBSGYN] Perdarahan Uterus Abnormal

November 25, 2008

PENDAHULUAN

 

Perdarahan uterus abnormal merupakan suatu masalah kesehatan yang sering dijumpai, dimana penangan dan penatalaksanaanya bisa sangat rumit. Secara umum, penyebab perdarahan uetrus abnormal adalah kelainan organik (tumor, infeksi), sistemik (seperti kelainan faktor pembekuan), dan fungsi alat reproduksi1.

Perdarahan Uterus Abnormal (PUA) menjadi perhatian klinisi karena dampak yang ditimbulkannya jika tidak ditangani dengan tepat. Angka kejadian PUA diprediksi terjadi pada 20% wanita. khususnya pada pasca menopause PUA merupakan  15%- 20% dari seluruh kasus ginekologi, serta 25% indikasi operasi ginekologi. Beberapa penelitian mendapatkan hanya 10-20% dari keseluruhan kasus PUA tersebut yang menderita kanker.2

PUA dapat terjadi pada semua usia dan sebagian besar  kasus yang dirujuk ke bagian Ginekologi adalah dengan  diagnosis klinis (sebenarnya gejala klinis) metrorhagia (37,1%)  dan menorhagia (33,7%).2

Agar kasus-kasus PUA dapat ditangani dengan tepat, harus diketahui etiologi/penyebab pasti yang dapat berupa kelainan organik dan perdarahan uterus disfungsional. Kelainan organik yang paling sering adalah mioma uterus terutama mioma submukosum, endometriosis, polip, kanker endo-metrium, hiperplasia endometrium dan adneksitis. Selain itu juga pemakaian alat kontrasepsi, trombositopenia dan gangguan pembekuan darah serta penggunaan terapi sulih hormon. Modalitas yang sering digunakan untuk diagnosis etiologi perdarahan uterus adalah histeroskopi, kuretase yang dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologis (PA), biopsi, serta USG transvaginal dan MRI. Histeroskopi merupakan baku emas untuk mengetahui keadaan di dalam kavum uteri namun memerlukan prosedur anestesi, invasif dan mahal.2,3

Di beberapa pusat termasuk di RS Sanglah, pemeriksaan histopatologis merupakan baku emas untuk diagnosis patologis kavitas uteri. Sampel untuk pemeriksaan PA dapat diambil melalui kuretasi atau biopsi. Di samping untuk diagnostik, kuretasi berfungsi juga sebagai terapi perdarahan uterus. Jika dibandingkan dengan hasil PA setelah histerektomi, akurasi D&C PA mencapai 90%, sehingga D&C PA baik dipakai sebagai baku emas pemeriksaan lesi intrauteri.2,

            Banyaknya kasus yang terjadi dan penegakan etiologi yang harus tepat menarik perhatian penulis untuk menjabarkan lebih dalam mengenai perdarahan uterus abnormal.

 

DAFTAR PUSTAKA 

 

1.      London, Steve N. Abnormal Uterine Bleeding dalam Danforth’s Obstetrics and Gynecology, 9th Ed (electronic-book version). Editor James R. Scott et al;. Lippincott Williams & Wilkins Publishers, USA. 2003; hal 41 

2.      Silberstein, Taaly. Complications of Menstruation; Abnormal Uterine Bleeding dalam Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment, Ninth Edition (electronic-book version). Editor Alan H. DeCherney dan Lauren Nathan. McGraw-Hill Companies, USA. 2003; hal 37 

3.      Richlin, Spencer S dan John A. Rock. Abnormal Uterine Bleeding dalam Pediatric and Adolescent Gynecology 2nd Ed (electronic-book version). Editor Sue Ellen Koehler Carpenter dan John A Rock. Lippincott Williams & Wilkins Publishers, USA. 2000; hal 22 

4.      Leiserowitz, Gary S dan  Clara K Paik. Abnormal Uterine Bleeding dalam Manual of Outpatient Gynecology, 4th edition (electronic-book version). Editor Carol S. Havens dan Nancy D Sullivan. Lippincott Williams & Wilkins Publishers, USA. 2002; hal 19 

5.      Barbieri, Robert L dan Kenneth J. Ryan. The Reproductive System And Disease dalam Kistner’s Gynecology and Women’s Health (electronic-book version). Editor Kenneth J Ryan et al. Mosby Inc, USA. 1999; hal 10 

6.      Chou, Betty and Nikos Vlahos. Abnormal Uterine Bleeding dalam The Johns Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics 2nd edition (electronic-book version). Editor Brandon J Bankowski et al. Lippincott Williams & Wilkins Publishers, USA. 2002; hal 42 

7.      Lobo, Rogerio A. Abnormal Uterine Bleeding  :  Ovulatory and Anovulatory Dysfunctional Uterine Bleeding, Management of Acute and Chronic Excessive Bleeding dalam Katz: Comprehensive Gynecology, 5th ed (electronic-book version). Editor Vern L Katz et al. Mosby Inc, USA. 2007 

8.      Kumar, Vinay et al. Robbins and Cotran: Pathologic Basis of Disease, 7th ed (electronic-book version). Saunders Elsevier, USA. 2005 

9.      Mansjoer, Arif et al. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi 3. Media Aesculapius, Jakarta. 2000; hal 375-376 

10.  Larsen, P Reed et al. Williams Textbook of Endocrinology, 10th ed (electronic-book version). Saunders Elsevier, USA. 2003 

11.  Goldman, Lee et al. Cecil Medicine, 23rd ed (electronic-book version). Saunders Elsevier, USA. 2007 

12.  Goldstein, Ruth B. Saline Infusion Sonohysterography. MD Consult’s J. 2006;1 

13.  Livingstone, Mark dan Ian SP. Mechanisms Of Abnormal Uterine Bleeding. Human Reroduction Update. 2002;8/1:60-67 

14.  Albers, Janet R, Sharon KH, dan Robert MW. Abnormal Uterine Bleeding. American Family Physicia. 2004;69/8 

15.  Sahadewa, DP, Suwardewa TGA dan Jaya MS. USG Transvaginal Dibandingkan dengan D&C PA untuk Diagnostik Perdarahan Uterus Abnormal. Cermin Dunia Kedokteran. 2005;146:44-47 

16.  Ely, John W et al. Abnormal Uterine Bleeding: A Management Algorithm. American Board of Family Medicine. 2006;19:590-602 

17.  Telner, Deanna E dan Difat Jakubovicz. Approach to diagnosis and management of abnormal uterine bleeding. Can Fam Physici. 2007;53/1:58-64

18.  Akkad, AA, Habiba MA, Ismail N, Abrams K, dan al-Azzawi F. Abnormal uterine bleeding on hormone replacement: the importance of intrauterine structural abnormalities. The American College of Obstetricians and Gynecologists. 1995;86:330-334 

19.  Emanuel,  MH. Long-term Results of Hysteroscopic Myomectomy for Abnormal Uterine Bleeding. The American College of Obstetricians and Gynecologists. 1999;93:743-748 

20.  Weber, Anne M et al. Risk Factors for Endometrial Hyperplasia and Cancer Among Women With Abnormal Bleeding. The American College of Obstetricians and Gynecologists. 1999;93:594-598

21.  Williams, Penny L et al. US of Abnormal Uterine Bleeding. Radiographics. 2003;23:703-718

 

 

NB :

Diatas merupakan salah satu tulisan ilmiah saya yang saya buat untuk keperluan coass di RSUD Ulin Banjarmasin. Bagi teman-teman yang berminat untuk full text nya harap beri comment dan kirim email (berisi nama, kuliah/kerja dimana, dan untuk keperluan apa) ke alamat drbudiseptiawan@gmail.com, nanti saya akan kirimkan filenya.

Kalau tulisan ini berkenan dan bermanfaat comment please


[REFRAT/OBSGYN] Thalassemia dan Kehamilan

November 25, 2008

PENDAHULUAN

 

Thalassemia berasal dari kata Yunani, yaitu talassa yang berarti laut. Yang dimaksud dengan laut tersebut ialah Laut Tengah, oleh karena penyakit ini pertama kali dikenal di daerah sekitar Laut Tengah. Penyakit ini pertama sekali ditemukan oleh seorang dokter di Detroit USA yang bernama Thomas B.1

Thalassemia adalah penyakit genetik yang diturunkan secara autosomal resesif menurut hukum Mendel dari orang tua kepada anak-anaknya. Penyakit thalassemia meliputi suatu keadaan penyakit dari gelaja klinis yang paling ringan (bentuk heterozigot) yang disebut thalassemia minor atau thalassemia trait (carrier = pengemban sifat) hingga yang paling berat (bentuk homozigot) yang disebut thalassemia mayor. Bentuk heterozigot diturunkan oleh salah satu orang tuanya yang mengidap penyakit  thalassemia, sedangkan bentuk homozigot diturunkan oleh kedua orang tuanya yang mengidap penyakit thalassemia.2

Thalassemia ternyata tidak saja terdapat di sekitar Laut Tengah, tetapi juga di Asia Tenggara yang sering disebut sebagai sabuk thalassemia sebelum pertama sekali ditemui pada tahun 1925 .Di Indonesia banyak dijumpai kasus thalassemia, hal ini disebabkan oleh karena migrasi penduduk  dan percampuran penduduk.  Menurut hipotesis, migrasi penduduk tersebut diperkirakan berasal dari Cina Selatan yang dikelompokkan dalam dua periode.  Kelompok migrasi pertama diduga memasuki Indonesia sekitar 3.500 tahun yang lalu dan disebut Protomelayu (Melayu awal) dan migrasi kedua diduga 2.000 tahun yang lalu disebut Deutromelayu (Melayu akhir) dengan fenotip Monggoloid yang kuat. Keseluruhan populasi ini menjadi menjadi Hunian kepulauan Indonesia tersebar di Kalimantan, Sulawesi, pulau Jawa, Sumatera, Nias, Sumba dan Flores.1,3

            Pada wanita dengan thalassemia dan rutin mendapatkan tranfusi akan menurunkan kesuburan, walaupun demikian kehamilan masih mungkin terjadi. Dengan penanganan dan konseling yang tepat akan meningkatkan kulitas hidup dan kesukseskan dalam kehamilan. Hal inilah yang menarik minat penulis untuk mengupas lebih lanjut mengenai kehamilan dan thalassemia.4

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Weatherall, David J. The Thalassemias dalam Williams Hematology 6th edition (electronic-book version). Editor  Ernest Beutler M.D et al. McGraw-Hill Companies, USA. 2000; hal 79 

2.      Ganie, Ratna Akbari. Thalassemia: Permasalahan dan Penanganannya. Disampaikan dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Patologi pada Fakultas Kedokteran. USU, Medan. 2005 

3.      Pignatti, Caterina Borgna dan Renzo Galanello. Thalassemias and Related Disorders: Quantitative Disorders of Hemoglobin Synthesis dalam Wintrobe’s Clinical Hematology 11th Edition (electronic-book version). Lippincott Williams & Wilkins Publishers, USA. 2003; hal 48 

4.      Benz, Edward J. HEMOGLOBINOPATHIES dalam Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th Edition (electronic-book version). Editor Eugene Braunwald et al. McGraw-Hill Companies, USA. 2004; hal 652 

5.      Anonymous. Pregnancy and Thalassemia. Online 2005. Available from http://www.thalassemia.com (cited January 13, 2008) 

6.      Grewal, Michelle, Manoj K. B, dan Dorothee Perloff. Cardiac, Hematologic, Pulmonary, Renal & Urinary Tract Disorders In Pregnancy dalam Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment, Ninth Edition (electronic-book version). Editor Alan H. DeCherney dan Lauren Nathan. McGraw-Hill Companies, USA; hal 27 

7.      Anonymous. What is Thalassemia?. Online 2005. Available from http://www.hematology.com (cited January 13, 2008) 

8.      Ferguson, Nancy. An Overview of Thalassemia for Parents Adopting Internationally. Online 2006. Available from http://www.community.com (cited January 13, 2008) 

9.      Kosasih, EN. Sindrom Thalassemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2 Edisi ketiga. Editor Slamet Suyono et al. Balai Penerbit FK UI, Jakarta. 2001 : hal 523 

10.  Linker, Charles A. Blood dalam Current Medical Diagnosis & Treatment, 45th Edition (electronic-book version). Editor Lawrence M. Tierney et al. McGraw-Hill Companies, USA. 2006; hal 485 

11.  Forget, Bernard G. Thalassemia Syndromes dalam Hematology: Basic Principles and Practice, 3rd ed (electronic-book version). Churchill Livingstone, Inc, USA. 2000; hal 249  

12.  Rice, FA. Thalassemia. Online 2005. Available from http://www.cariboo.bc  (cited January 13, 2008) 

13.  Apostoli, Anthony et al. Pregnancy in Thalassemia Patients and Their Partners in a Canadian Population. ASH J. 2005; 106:3835 

14.  Anonymous. Practice Guideline Briefs ACOG Publishes Guidelines on Hemoglobinopathies in Pregnancy. American Family Physician J. 2007; Volume 76, Issue 8 

15.  Anonymous. Fertility in the Individual with Thalassemia. Online 2005. Available from http://www.thalassemia.com/thal_nav.js (cited February 9, 2008) 

16.  Malee, Maureen P. Medical and Surgical Complications of Pregnancy dalam Danforth’s Obstetrics and Gynecology, 9th Ed (electronic-book version). Editor James R et al. Lippincott Williams & Wilkins Publishers, USA. 2003; hal 23 

17.  Gabbe, Steven G et al. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies, 5th ed. Churchill Livingstone, An Imprint of Elsevier, USA. 2007 

18.  Ong, Charas Yeu Theng et al. Human Chorionic Gonadotropin and Plasma Protein-A in Alpha0-Thalassemia Pregnancies. . American College of Obstetricians and Gynecologists. 2006;108:651-655 

19.  Thame, Minerva et al. The Mechanisms of Low Birth Weight in Infants of Mothers With Homozygous Sickle Cell Disease. Pedriatics J. 2007; Vol. 120 No. 3: e686-e693

20.  Sheiner, Eyal, Amalia Levy, Ronit Yerushalmi, dan Miriam Katz. Beta-Thalassemia Minor During Pregnancy. American College of Obstetricians and Gynecologists. 2004;103:1273-1277

 

NB :

Diatas merupakan salah satu tulisan ilmiah saya yang saya buat untuk keperluan coass di RSUD Ulin Banjarmasin. Bagi teman-teman yang berminat untuk full text nya harap beri comment dan kirim email (berisi nama, kuliah/kerja dimana, dan untuk keperluan apa) ke alamat drbudiseptiawan@gmail.com, nanti saya akan kirimkan filenya.

Kalau tulisan ini berkenan dan bermanfaat comment please

 


[REFRAT/ANAK] Tumbuh Kembang pada Sindrom Down

November 25, 2008

PENDAHULUAN

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi orgam/individu. Walaupun demikian, kedua peristiwa itu terjadi secara sinkron pada setiap individu.1

Untuk tercapainya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik seseorang, merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda yang memberikan ciri tersendiri pada setiap anak. Begitu pula pada anak yang menderita sindrom down.1

Sindrom Down disebabkan kelainan pada kromosom. Bayi normal dilahirkan dengan jumlah 46 kromosom (23 pasang) yaitu hanya sepasang kromosom 21 (2 kromosom 21). Semua individu dengan sindrom Down memiliki 3 salinan kromosom 21. sekitar 95% memiliki salinan kromosom 21 saja. Sekitar 1% individu bersifat mosaik dengan beberapa sel normal. Sekitar 4% penderita sindrom Down mengalami translokasi pada kromosom 2.2

DAFTAR PUSTAKA

 1.       Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta: EGC, 1998

2.       Kliegman RM. Kelainan kromosom Dalam Ilmu kesehatan anak Jilid 2 edisi 12. Behrman RE, Vaughan VC, Nelson WE (editors). Alih Bahasa : Siregar MR. EGC, Jakarta, 1992; 392-5.

3.       Widodo, M N.  Down Syndrome. [serial online] tanpa tahun. Available from URL http://google.com

4.       Abdoerrahman et al. Abnormalitas Kromosom dalam Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1. FKUI, Jakarta, 1985; 217-19

5.       Izquierdo, Natalio J. Down Syndrome. Emedicine. [serial online] 2008. Available from URL http://emedicine.com 

6.       Chen,  Harold. Down Syndrome. Emedicine. [serial online] 2007. Available from URL http://emedicine.com

7.       Woodhouse, J. Margaret et al. The Effect of Age, Size of Target, and Cognitive Factors on Accommodative Responses of Children with Down Syndrome. Investigative Ophthalmology and Visual Science. 2000; 41:2479-2485.

8.       Cregg, Mary et al. Development of Refractive Error and Strabismus in Children with Down Syndrome. Investigative Ophthalmology and Visual Science. 2003;44:1023-1030

9.       Haugen, Olav H, Gunnar Høvding, Isa Lundström. Refractive development in children with Down’s syndrome: a population based, longitudinal study. Br J Ophthalmol. 2001;85:714-719

10.   Anounymous. Down Syndrome Development. About Down Syndrome. [serial online] 2006. Available from URL http:// www.about-down-syndrome.com

11.   Winders, Pat. Physical therapy for Down syndrome should focus on gross motor skill development.  [serial online] 2007. Available from URL http:// www.mdconsult.com

12.   Smith, Beth A et al. Effect of Practice on a Novel Task—Walking on a Treadmill: Preadolescents With and Without Down Syndrome. Phys Ther. 2007; Vol. 87, No. 6:pp. 766-777

13.   Ulrich, Dale A et al. Treadmill Training of Infants With Down Syndrome: Evidence-Based Developmental Outcomes. Pediatrics. 2001; Vol. 108 No. 5 : p. e84

14.   Trotsenburg, A. S. Paul van et al. The Effect of Thyroxine Treatment Started in the Neonatal Period on Development and Growth of Two-Year-Old Down Syndrome Children: A Randomized Clinical Trial. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. 2005; Vol. 90, No. 6: 3304-3311

15.   Annerén, G et al. Growth hormone treatment in young children with Down’s syndrome: effects on growth and psychomotor development. Arch Dis Child. 1999; 80:334-338

16.   Roberts, Joanne E. et al. Language and communication development in down syndrome. Wiley-Liss. 2006; Volume 13, Issue 1:26 – 35

17.   Caselli, M. Cristina et al. Gestures and Words in Early Development of Children With Down Syndrome. Journal of Speech, Language, and Hearing Research. 1998; Vol.41 1125-1135

18.   Miller, Jon. Language Development in Children with Down Syndrome. [serial online] 2001.  Available from URL http://www.brookespublishing.com

19.   Kumin,Libby. Comprehensive Speech and Language Treatment for Infants, Toddlers, and Children with Down Syndrome. [serial online] tanpa tahun. Available from URL http://www.ds-health.com

20.   Vicari, S. Motor development and neuropsychological patterns in persons with Down syndrome. Behav Genet. 2006; 36(3): 355-64

21.   Roberts, Joanne E. , Johanna Price , Cheryl Malkin. Language and communication development in down syndrome. Mental Retardation and Developmental Disabilities Research Reviews. 2006; Vol 13, Issue 1:26-35

22.   Wishart, Jennifer G. Cognitive development in young children with Down syndrome: developmental strengths, developmental weaknesses. [serial online] 1998. Available from URL http://www.dsrf.org

NB :

Diatas merupakan salah satu tulisan ilmiah saya yang saya buat untuk keperluan coass di RSUD Ulin Banjarmasin. Bagi teman-teman yang berminat untuk full text nya harap beri comment dan kirim email (berisi nama, kuliah/kerja dimana, dan untuk keperluan apa) ke alamat drbudiseptiawan@gmail.com, nanti saya akan kirimkan filenya.

Kalau tulisan ini berkenan dan bermanfaat comment please

 

 


[REFRAT/OBSGYN] Sindrom Metabolik dan Kehamilan

November 25, 2008

PENDAHULUAN

Sindroma metabolik atau sindrom X adalah sekelompok kelainan metabolik baik lipid maupun non-lipid yang yang mempunyai karakteristik khusus yaitu obesitas sentral, dislipidemia aterogenik (kadar trigliserida meningkat dan kadar kolesterol high-density lipoprotein (HDL) rendah), hipertensi, dan glukosa plasma yang abnormal1,2,3

Keadaan tersebut di atas berhubungan erat dengan suatu kelainan sistemik yang dikenal sebagai resistensi insulin. Resistensi insulin adalah suatu gangguan respons biologis terhadap insulin, dengan akibat kebutuhan insulin tubuh meningkat sehingga terjadi hiperinsulinemia untuk mempertahankan kadar glukosa plasma agar tetap dalam batas normal. Resistensi insulin berkaitan erat dengan obesitas, khususnya dengan penimbunan jaringan lemak abdominal atau obesitas sentral. Beberapa keadaan resistensi insulin seperti sindroma ovari polikistik, terapi glukokortikoid, atau kehamilan tidak termasuk sindroma metabolik 4

Konsep tentang adanya sekelompok faktor risiko PJK sudah pernah dikemukakan sebelumnya oleh Kylin pada tahun 1933 dengan nama sindroma X terdiri atas obesitas, hiperurisemia, dan hipertensi. Kemudian Reaven pada tahun 1988 memperkenalkan kembali sindroma X dengan jenis faktor risiko yang berbeda yaitu intoleransi glukosa, hiperinsulinemia, trigliserida yang tinggi, HDL-kolesterol rendah dan hipertensi. Selanjutnya semakin banyak faktor risiko penyakit jantung koroner yang diusulkan sebagai bagian dari sindroma X sehingga sindroma ini mendapat beberapa nama lain seperti sindroma resistensi insulin, the deadly quartet, atau sindroma dismetabolik. 4

Ketika seorang wanita dengan metabolik sindrom hamil, kehamilan itu sendiri akan memberikan gejala yang mirip dengan metabolik sindrom yaitu menurunnya sensitivitas terhadap insulin, meningkatnya kadar gula darah, peningkatan kadar trigliserida dan peningkatan tekanan darah. Tentu saja hal ini akan memperparah metabolik sindrom yang sudah diderita dan nantinya dapat mempengaruhi terhadap ibu dan janin.5

 

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Benz, Edward J. HEMOGLOBINOPATHIES dalam Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th Edition (electronic-book version). Editor Eugene Braunwald et al. McGraw-Hill Companies, USA. 2004; hal 652
  • 2. Masharani, Umesh. Diabetes Mellitus & Hypoglycemia dalam Current Medical Diagnosis & Treatment, 45th Edition (electronic-book version). Editor Lawrence M. Tierney et al. McGraw-Hill Companies, USA. 2006; hal 1198
  • 3. Meigs, James B. The metabolic syndrome. BMJ. 2003;327:61-62
  • 4. Adriansjah, Herman dan John MF Adam. Sindrom Metabolik (Pengertian, Edidemiologi, dan Kriteria Diagnosis. Informasi Laboratorium. 2006;No. 4/2006. ISSN 0854-7165
  • 5. Simmons, David. Metabolic Syndrome, Pregnancy and The Risk Of Cardiovascular Disease. Diabetes Voice. 2006. Vol 51;34-36
  • 6. Lawrence, Gatot S. Sindrom Metabolik Merupakan Manifestasi dari Keadaan Inflamasi. J Med Nus. 2005. Vol. 26 No. 1 Januari-Maret 2006
  • 7. Reaven, Gerald M. Syndrome X dalam Principles and Practice of Endocrinology and Metabolism (electronic-book version). Editor Kenneth L. Becker et al. Lippincott Williams & Wilkins Publishers, USA. 2002; hal 169
  • 8. Buse, John B, Kenneth S. Polonsky, Charles F. Burant. Disorders of Carbohydrate and Lipid Metabolism dalam Williams Textbook of Endocrinology, 10th ed. Churchill Livingstone, An Imprint of Elsevier, USA. 2003; hal 1427
  • 9. Janzen, Carla, Jeffrey S. Greenspoon, dan Sue M. Palmer. Diabetes Mellitus & Pregnancy. Diabetes Mellitus & Pregnancy dalam Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment, Ninth Edition (electronic-book version). Editor Alan H. DeCherney dan Lauren Nathan. McGraw-Hill Companies, USA. 2003; hal 23
  • 10. Anonymous. Executive Summary of the Third Report of the National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III). JAMA. 2001; Vol 285, No. 19
  • 11. Connor, Patti. Metabolic Syndrome Risk Factors Revisited. DOC News. 2005; Volume 2 Number 6 p. 6
  • 12. Isomaa, Bo et al. Cardiovascular Morbidity and Mortality Associated With the Metabolic Syndrome. Diabetes Care. 2001; VO. 24, No. 4
  • 13. Khardori, Romesh(Ed). Metabolic Syndrome And Cardiovascular Disease. [serial online] 2003. Available at URL http://www.emedicin.com
  • 14. Andra. Understanding the Metabolic Syndrome. Farmacia. 2007. Vol 1-2007; 55
  • 15. Anonymous. Women Living With Metabolic Syndrome Have Increased Risk of Pregnancy Complications, Study Says. [serial online] 2003. Available at URL http://www.kaisernetworkg.org
  • 16. Ray, Joel G et al. Metabolic Syndrome features and risk of neural tube defects. BMC Pregnancy and Childbirth. 2007; 7:21
  • 17. Vogin, D. Gestational Diabetes Raises Risk of Metabolic Syndrome. [serial online] 2003. Available at URL http://.medscape.com
  • 18. Forgoros, Rich. Women With Gestational Diabetes Should be Assessed for MetabolicSyndrome. [serial online] 2007. Available at URL http://www.about.com
  • 19. Cianni, G D et al. C-reactive protein and metabolic syndrome in women with previous gestational diabetes. Diabetes/metab Res Rev. 2007;vol.23,no2,pp.135-140
  • 20. Sriharan, Mohanaluxmi et al. Total Sialic Acid and Associated Elements of the Metabolic Syndrome in Women With and Without Previous Gestational Diabetes. Diabetes Care. 2005; 25:1331-1335, 2002
  • 21. Lauenborg, Jeannet et al. The Prevalence of the Metabolic Syndrome in a Danish Population of Women with Previous Gestational Diabetes Mellitus Is Three-Fold Higher than in the General Population. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. 2005; Vol. 90, No. 7 4004-4010
  • 22. Retnakaran, Ravi. Anthony J. G. Hanley, Philip W. Connelly, Mathew Sermer dan Bernard Zinman. Ethnicity Modifies the Effect of Obesity on Insulin Resistance in Pregnancy: A Comparison of Asian, South Asian, and Caucasian Women. 2006. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. Vol. 91, No. 1 93-97
  • 23. Robinson, Heather E, Colleen M. O’Connell, K. S. Joseph, dan N. Lynne McLeod. Maternal Outcomes in Pregnancies Complicated by Obesity. Obs Gyn J . 2005; 106:1357-1364
  • 24. Claude Forest, Jean et al. Early Occurrence of Metabolic Syndrome After Hypertension in Pregnancy. Obs Gyn J. 2005;105:1373-1380
  • 25. Solomon, Caren G., Ellen W. Seely. Hypertension in Pregnancy A Manifestation of the Insulin Resistance Syndrome?. Am Heart Ass J. 2001;37;232-239
  • 26. Rodie, VA et al. Pre-eclampsia and cardiovascular disease: metabolic syndrome of pregnancy?. Atherosclerosis. 2004; Vol. 175, No. 2. pp. 189-202.
  • 27. Barker, D.J.P, et al. Type 2 (non-insulin-dependent) diabetes mellitus, hypertension and hyperlipidaemia (syndrome X): relation to reduced fetal growth. Springer Berlin J. 1993; Vol. 36-1;62-67
  • 28. Seely, Ellen W dan Caren G. Solomon. Insulin Resistance and Its Potential Role in Pregnancy-Induced Hypertension. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. 2003; 88(6):2393-2398
  • 29. Pouta, Anneli et al. Manifestations of Metabolic Syndrome After Hypertensive Pregnancy. Am Heart Ass J. 2004;43:825-831

 

NB :

Diatas merupakan salah satu tulisan ilmiah saya yang saya buat untuk keperluan coass di RSUD Ulin Banjarmasin. Bagi teman-teman yang berminat untuk full text nya harap beri comment dan kirim email (berisi nama, kuliah/kerja dimana, dan untuk keperluan apa) ke alamat drbudiseptiawan@gmail.com, nanti saya akan kirimkan filenya.

Kalau tulisan ini berkenan dan bermanfaat comment please


[REFRAT/THT] Rhinitis Medikamentosa

November 25, 2008

PENDAHULUAN

 

            Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung yang berupa gangguan respons normal vasomotor. Kelainan ini merupakan akibat dari pemakaian vasokontriktor topikal (obat tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Istilah rhinitis mendikamentosa ini pertama kali dikenalkan oleh Lake pada tahun 1946.1,2

Rhinitis medikamentosa dikenal juga dengan rebound atau rhinitis kimia karena menggambarkan kongesti mukosa hidung yang diakibatkan penggunaan vasokontriksi topikal yang berlebihan. Obat-obatan lain yang bisa mempengaruhi keseimbangan vasomotor adalah antagonis ß-adrenoreseptor oral,  inhibitor fosfodiester, kontrasepsi pil, dan antihipertensi. Tetapi mekanisme terjadinya kongesti antara vasokontriktor  hidung dengan obat-obat di atas berbeda sehingga istilah rhinitis medikamentosa hanya untuk rhinitis yang disebabkan oleh penggunaan vasokontiktor topikal sedangkan yang disebabkan oleh obat-obat oral dinamakan rhinitis yang dicetuskan oleh obat (drug induced rhinitis).1

Mukosa hidung merupakan organ yang sangat peka terhadap rangsangan sehingga dalam penggunaan vasokontriktor topikal harus berhati-hati. Vasokontriktor hidung diisolasi pertama kali pada tahun 1887 dari ma-huang yaitu tanaman yang mengandung ephedrine dan digunakan sebagai  vasokontriktor topikal pada mukosa hidung dalam bentuk inhalasi, minyak, semprot dan tetes.1 Vasokontriktor topikal yang digunakan sebaiknya yang isotonik dengan sekret yang normal, pH antara 6,3 sampai 6,5 serta pemakaiannya tidak lebih dari satu minggu sehingga rhinitis medikamentosa dapat dicegah.

Rhinitis medikamentosa merupakan salah satu kelainan hidung non alergi yang dapat mengganggu dan membuat penderita datang berobat ke dokter. Oleh karena itu pada makalah ini akan dibahas tentang patofisiologi, gejala, pemeriksaan dan penatalaksanaan dari rhinitis medikamentosa.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

  1. Ramey JT, Bailen E, Lockey RF. Rhinitis Medicamentosa. J Investig Allergol Clin Immunol, 2006 ; 16 : (3) : 148-155

 

  1. Garfield CF. Rhinitis Medicamentosa. The Journal of eMedicine, 2006 ; 1-10

 

  1. Graf P. Rhinitis Medicamentosa: Aspects of Pathophysiology and Treatment. MD Consult Journal, 1997 ; 52 ; 40 : 28-34

 

  1. Graf P. Rhinitis Medicamentosa: A Review of Causes and Treatment. Treat Respir Med. 2005; 4:21-9.

 

  1. Heel Inc. Medical Department. Rhinitis. Heel Inc. Medical Department, 2001 : 1-6

 

  1. Wikipeda. Rhinitis Medicamentosa. GNU FD License, 2007 :1-3

 

  1. Black MJ, Remsen KA. Rhinitis medicamentosa. Can Med Assoc J. 1980; 122:881-4

 

  1. Fleece L, Mizes JS, Jolly PA, Baldwin RL. Rhinitis Medicamentosa : Conceptualization, Incidence, and Treatment. Ala J Med Sci. 1984; 21:205-8

 

  1. Lin CY, Cheng PH, Fang SY. Mucosal Changes in Rhinitis Medicamentosa. Ann Otol Rhinol Laryngol, 2004 Feb; 113(2): 147-51

 

  1. Ramakrishnan VR, Meyers AD, Woodall BS. Nonallergic Rhinitis. The Journal of eMedicine, 2006 ; 1-10

 

  1. Moses S. Rhintis Medicamentosa. Family Practice Notebook, 2008 : 1-2

 

  1. Graf P. Benzalkonium Chloride as A Preservative in Nasal Solutions: Re-examining The Data. Respir Med. 2001; 95:728-33

 

  1. Corey JP,  Houser S,  Bernard A. Nasal Congestion: A Review of Its Etiology, Evaluation, and Treatment – Brief Article. Ear, Nose & Throat Journal, 2000 : 1-12

 

  1. Dykewicz MS, Fineman S, Skoner DP, Nicklas R, Lee R, Blessing-Moore J et al. Diagnosis and Management of Rhinitis: Complete Guidelines of The Joint Task Force on Practice Parameters in Allergy, Asthma and Immunology. American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology. Ann Allergy Asthma Immunol, 1998; 81:478-518.

 

  1. Scadding GK. Rhinitis medicamentosa. Clin Exp Allergy, 1995; 25:391-4

 

  1. Montgomery JR. Rhinitis. Operational Medicine GMO Manual, 2001 : 1-6

 

 

NB :

Diatas merupakan salah satu tulisan ilmiah saya yang saya buat untuk keperluan coass di RSUD Ulin Banjarmasin. Bagi teman-teman yang berminat untuk full text nya harap beri comment dan kirim email (berisi nama, kuliah/kerja dimana, dan untuk keperluan apa) ke alamat drbudiseptiawan@gmail.com, nanti saya akan kirimkan filenya.

Kalau tulisan ini berkenan dan bermanfaat comment please

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.