[REFRAT/PENYAKIT DALAM] Diagnosis dan Terapi Batu Saluran Kemih

PENDAHULUAN

 

Penyakit batu ginjal merupakan masalah kesehatan yang cukup bermakna, baik di Indonesia maupun di dunia. Prevalensi penyakit batu diperkirakan sebesar 13% pada laki-laki dewasa dan 7% pada perempuan dewasa.1 Prevalensi batu ginjal di Amerika bervariasi  tergantung pada ras, jenis kelamin dan lokasi geografis. Empat dari lima pasien adalah laki-laki, sedangkan usia puncak adalah dekade ketiga sampai keempat.2  Angka kejadian batu ginjal di Indonesia tahun 2002 berdasarkan data yang dikumpulkan dari rumah sakit di seluruh Indonesia adalah sebesar 37.636 kasus baru, dengan jumlah kunjungan sebesar 58.959 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat adalah sebesar  19.018 orang, dengan jumlah kematian adalah sebesar 378 orang.3

Dijepang penderita batu salurankemih semakin meningkat tiap tahunn. Hal ini dicurigai akibat meniingkatnya mutu pelayanan kesehatan, adanya perubahan pola makan dan pengaruh lingkungan dan ketidak pedulian masyarakat akan kesehatannya.4

Di beberapa rumah sakit di Indonesia dilaporkan ada perubahan proporsi batu ginjal dibandingkan batu saluran kemih bagian bawah. Basil analisis jenis batu ginjal di Laboratorium Patologi Klinik Universitas Gadjah Mada sekitar tahun 1964 dan 1974, menunjukkan kenaikan proporsi batu ginjal dibanding proporsi batu kandung kemih. Sekitar tahun 1964-1969 didapatkan proporsi batu ginjal sebesar 20% dan batu kandung kemih sebesar 80%, tetapi pada tahun 1970-1974 bath ginjal sebesar 70 persen (101-144 batu) dan batu kandung kemih 30 persen (43/144 batu).5

Di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang tahun 1979 telah dirawat 166 pasien batu saluran kemih atau 52/10.000 pasien rawat inap. Hampir keseluruhan pasien (99%) datang dengan problem medis bath ginjal yang dilaporkan sebesar 35%. Pada tahun 1981-1983 dilaporkan dari 634 pasien batu saluran kemih didapatkan 337 pasien batu ginjal (53%).5

Pada tahun 1983 di Rumah Sakit DR. Sardjito dilaporkan 64 pasien dirawat dengan batu saluran kemih, bath ginjal 75% dan bath kandung kemih 25%. Kejadian batu saluran kemih terdapat sebesar 57/10.000 pasien rawat inap. Pada tahun 1986 dilaporkan prevalensi batu saluran kemih sebesar 80/10.000 pasien rawat inap. Batu ginjal ditemukan 79 dari 89 pasien batu saluran kemih tersebut. Tampaknya proporsi batu ginjal relatif stabil.5

Beban ekonomi akibat batu saluran kemih sangat besar. Pada tahun 2000, biaya total untuk pengobatan urolitiasis di Amerika Serikat diperkirakan 2,1 milyar dolar, yang meliputi 971 juta dolar untuk pasien rawat inap, 607 juta dolar untuk pasien rawat jalan dan kunjungan praktik dokter, serta 490 juta dolar untuk pelayanan gawat darurat. Angka-angka tersebut menggambarkan kenaikan sebesar 50% dari biaya pengobatan urolitiasis sebesar 1,34 milyar dolar pada tahun 1994.6 Di Indonesia belum ada data mengenai beban biaya kesehatan untuk batu saluran kemih.

Dalam memilih pendekatan terapi optimal untuk pasien urolitiasis, berbagai faktor harus dipertimbangkan. Faktor-faktor tersebut adalah faktor batu (ukuran, jumlah, komposisi dan lokasi), faktor anatomi ginjal (derajat obstruksi, hidronefrosis, obstruksi uretero-pelvic junction, divertikel kaliks, ginjal tapal kuda), dan faktor pasien (adanya infeksi, obesitas, deformitas habitus tubuh, koagulopati, anak-anak, orang tua, hipertensi dan gagal ginjal).7

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Lotan Y, Pearle MS. Economics of Stone Management. EAU Update Series 2005; 3(1):51-60

 

  1. Clark JY, Thompson IM, Optenberg SA. Economic Impact of Urolithiasis in the United States. J Urol 1995;154(6):2020-24

 

  1. Statistik Rumah Sakit di Indonesia. Seri 3, Morbiditas dan Mortalitas. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Departemen Kesehatan RI. 2002

 

  1. Takahiro Y, Masanori I, Sadao S, Kenjiro K. Prevalence and Epidemiological Characteristics of Urolithiasis in Japan: National Trends Between 1965 and 2005. Urology 2008;71: 209 –213

 

  1. Sja’bani M. Batu Saluran Kemih. Dalam : Aru W Sudoyo Ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta : Penerbitan IPD FKUI, 2007.  h. 563-567

 

  1. Yair L, Margaret SP. Economics of Stone Management. Urol Clin N Am 2007;34:443–453

 

  1. Stoller ML, Peter RC. Urology. Dalam : Tierney, Lawrence M., McPhee, Stephen J, Papadakis, Maxine A. Current Medical Diagnosis & Treatment, 45th Ed. Europe: McGraw-Hill Education, 2006. h. 932-973

 

  1. Segura JW, Preminger GM, Assimos DG, et al. Ureteral Stones Clinical Guidelines Panel Report on the Management of Ureteral Calculi. American Urological Association. 1997

 

  1. Tiselius HG, Ackermann D, Alken P, et al. Guidelines on Urolithiasis. European  Association of Urology.

 

  1. Tamm EP, Paul MS, William PS. Evaluation of the Patient with Flank Pain and Possible Ureteral Calculus. Radiology 2003; 228:319–329

 

  1. Kim SW. Can Ultrasonography Be Useful in Evaluating Urolithiasis in the ED As Well As Computed Tomography?. Annals Em Med 2008;51(4)

 

  1. Lin EP, Shweta B, Vikram SD, Deborah JR. Sonography of Urolithiasis and Hydronephrosis. Ultrasound Clin 2 (2007) 1–16

 

  1. Gaurav J, Parvati R. Acute Flank Pain Secondary to Urolithiasis: Radiologic Evaluation and Alternate Diagnoses. Radiol Clin N Am 2007;45:395–410

 

  1. Bariol SV, Moussa SA, Tolley DA. Contemporary Imaging for the Management of Urinary Stones. EAU Update Series 2005;3(1):3-9

 

  1. Leroy AJ. Diagnosis and Treatment of Nephrolithiasis: Current Perspectives. AJR 1994;163:1309-1313

 

  1. Burhanuddin N, Adi KA, Harun RL, Rustam EY, Silalahi M, Usul S. Analisa Batu Saluran Kemih Bagian Atas di Medan dan Sekitarnya. CDK 1982;28:60-61

 

  1. Menon M, Martin IR. Urinary Lithiasis: Etiology, Diagnosis, and Medical Management. Dalam : Walsh Ed. Campbell’s Urology, 8th ed. USA : Elsevier, 2002. h. 3227-3293

 

  1. Achmad IA, Talib B, Bowolaksosno et al. Urolitiasis. Dalam : Sjamsuhidayat R, Jong WD Ed. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC, 1997. h. 1024-1034

 

  1. Boridy IC, Nabil M, Carl MS. Suspected Urolithiasis in Pregnant Women: Imaging Algorithm and Literature Review. AJR 1996;167:869-875

 

  1. Irving SO, Calleja R, Lee F, et al. Is The Conservative Management of Ureteric Calculi of  >4mm safe ?.  BJU Int 2000;85:637-640

 

  1. Lubis HR, Rustam EY, Burhanuddin N, Nurmansyah T, Hasanui A, Ahmad Y. Pengobatan dan Pencegahan Batu Saluran Kemih (BSK) Berulang. CDK 1982;28:55-58

 

  1. Miller NL, James EL. Management of kidney stones. BMJ 2007:334:468-72

 

  1. Pak CYC. Etiology and Treatment of Urolithiasis. Am I Kidney Dis 1991; 18:624-637.

 

  1. Rodgers A, Shameez AH, Graham J. Therapeutic Action of Citrate in Urolithiasis Explained by Chemical Speciation: Increase in pH is the Determinant Factor. Nephrol Dial Transplant 2006;21:361–369

 

  1. Grover PK, Rosemary LR. Allopurinol for Stones: Right Drug—Wrong Reasons. AMJMED 2006;08.017
  2. Kristina L. Penniston, Thomas H. Steele, and Stephen Y. Nakada. Lemonade Therapy Increases Urinary Citrate and Urine Volumes in Patients with Recurrent Calcium Oxalate Stone Formation. Urology 2007;06:856-850

NB :

 

Diatas merupakan salah satu tulisan ilmiah saya yang saya buat untuk keperluan coass di RSUD Ulin Banjarmasin. Bagi teman-teman yang berminat untuk full text nya harap beri comment dan kirim email (berisi nama, kuliah/kerja dimana, dan untuk keperluan apa) ke alamat drbudiseptiawan@gmail.com, nanti saya akan kirimkan filenya.

Kalau tulisan ini berkenan dan bermanfaat comment please

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: